Archive for 2021

 


Tentang Keripik Talas Ciwidey

Khasiat Keripik Tales

Beragam manfaat umbi talas
  1. Menjaga kesehatan pencernaan. Salah satu manfaat talas yang bisa Anda peroleh adalah menjaga kesehatan pencernaan. ...
  2. Membantu menurunkan berat badan. ...
  3. Meningkatkan kesehatan jantung. ...
  4. Mengendalikan tekanan darah. ...
  5. Mengontrol kadar gula darah. ...
  6. 6. Kaya akan antioksidan. ...
  7. 7. Membantu memenuhi kebutuhan seng.


Order Keripik Talas Khas ciwidey, 
@facebook
@instagram
@youtube
@blogger:
@googlebisnisku



Source: 
oleholehciwidey.blogspot.com
tipssehat.com



Oleh Oleh Ciwidey - Keripik Talas - Keripik khas desa suka wening

Posted by : Banana Harajuku
Kamis, 15 April 2021
0 Comments

 

Sejarah Pengangkatan Guru Besar dan Profesor di Indonesia

Dulu sarjana pun bisa jadi profesor kalau sudah ubanan sehingga disebut profesor linglung.



Para pengajar dan guru besar di Rechtshogeschool te Batavia atau Sekolah Tinggi Hukum Batavia pada 1920-an. (Tropenmuseum).

Acara obrolan Erdian Aji Prihartanto alias Anji dan Hadi Pranoto tentang penemuan obat herbal untuk Covid-19 menuai kontroversi. Bukan saja isinya, tapi juga penyematan atribut profesor pada Hadi Pranoto. Tak diketahui dari universitas mana dia memperoleh atribut itu. Belakangan, dia mengaku atribut itu hanyalah panggilan sayang dari teman-temannya.  

Meski Hadi mengaku dia memperoleh atribut “profesor” dari teman-temannya, atribut itu sejatinya tak bisa sembarang disematkan oleh suatu kelompok kepada orang tertentu. Penyebutan profesor memiliki aturan jelas dalam sejarah negeri ini meski ada kalanya tak tertulis.

Profesor merupakan sebutan lain untuk guru besar. Profesor bukanlah gelar akademik, melainkan penyebutan untuk orang yang menjabat guru besar dalam struktur pengajar di universitas. Profesor berasal dari bahasa latin, artinya orang yang memiliki keahlian.

Nama Hussein Djajadiningrat tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mengemban jabatan guru besar dan memiliki atribut profesor. Dia memperolehnya dari Rechtshogeschool (Perguruan Tinggi Hukum) di Jakarta pada 1924.

Waktu itu hampir seluruh aturan dan sistem pendidikan tinggi di Hindia Belanda meniru aturan dan sistem pendidikan tinggi di Belanda. Termasuk pula penyebutan gelar untuk para sarjananya (Mr. atau Meester in de Rechten) dan penyematan jabatan guru besar.

Seturut dengan tradisi kampus-kampus di Eropa, kaprah pada masa itu komunitas akademik di sebuah kampus di Belanda saling mengusulkan seseorang untuk diangkat sebagai guru besar. Sebelumnya orang itu harus memiliki sejumlah karya akademik yang berbobot dan diakui komunitas akademik.

Sebelum pengangkatan menjadi guru besar, seseorang harus menyiapkan pidato ilmiah. Dia akan membacakan pidato itu di hadapan komunitas akademik tempat dia bekerja. Pidato lazimnya disampaikan dengan bahasa yang bisa dipahami oleh orang yang tidak sebidang dengan kepakaran atau keilmuannya. Menurut laman uu.se (Uppsala University, universitas pertama di Swedia) tradisi seperti ini telah berakar di kampus-kampus Eropa pada abad pertengahan (14–16 M).


Tradisi pengukuhan guru besar masuk ke Hindia Belanda seiring dengan pendirian perguruan tinggi di Hindia Belanda sepanjang 1920-an. Tradisi tanpa aturan tertulis ini terus bertahan di perguruan tinggi Indonesia selama masa 1950-an. Bachtiar Rifai dkk. dalam Perguruan Tinggi di Indonesia menyebut masa ini sebagai masa bertahan atau survival perguruan tinggi.  


Masa ini perguruan tinggi Indonesia mendasarkan geraknya pada Undang-Undang Darurat No. 7 Tahun 1950 tentang pemberian kekuasaan kepada menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan untuk menyelenggarakan universitas. Sebagian besar isi UU itu berupa upaya penambahan tenaga pengajar dari orang Indonesia dan pengambilalihan perguruan tinggi dari tangan NICA Belanda.

Sementara Nugroho Notoususanto dkk. dalam Sedjarah Singkat Universitas Indonesia menyebut masa 1950-an sebagai masa Indonesianisasi perguruan tinggi. Ini termasuk pula upaya mendorong pengukuhan guru besar dari kalangan bangsa Indonesia. “Lagi pula Senat Guru Besar sebagian besar terdiri dari orang-orang Belanda, demikian pula tenaga-tenaga dosen lainnya,” catat Nugroho.


Memasuki dekade 1960-an, aturan tertulis tentang pengangkatan guru besar dan penyematan sebutan profesor mulai diperkenalkan. Ini seiring dengan keluarnya UU No. 22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi. UU ini mengatur penyelenggaraan pendidikan seperti tujuan, bentuk-bentuk perguruan tinggi, tingkat ujian dan gelar, jenis pengajar, dan definisi guru besar dan profesor.

Pasal 11 ayat 7 menyebut pemakaian sebutan profesor diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP). Ada ancaman pidana jika seseorang sembarang menggunakannya. Tapi PP tentang pemakaian sebutan profesor tak kunjung keluar selama setahun. Ini membuat sejumlah perguruan tinggi menerapkan kembali konvensi lama tentang penyematan sebutan profesor. Seseorang pun terkadang menyematkan sebutan profesor di depan namanya secara mana suka.

“Pernah terjadi bahwa gelar profesor telah digunakan secara disengaja atau tidak disengaja oleh yang bersangkutan sebelum keluar Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, hal mana sama sekali tidak dapat dibenarkan,” catat Himpunan Peraturan Perundang-Undangan tentang Perguruan Tinggi di Indonesia terbitan tahun 1975.

Peraturan Tertulis Pertama                                

Kekosongan peraturan tertulis tentang penyematan sebutan profesor mendorong Tojib Hadiwijaya, Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, mengeluarkan Surat Keputusan No. 74 Tahun 1962 tentang Pedoman Sementara Mengenai Pengangkatan Guru Besar Pada Perguruan Tinggi dan Penggunaan Sebutan/Gelar Profesor. Inilah aturan tertulis pertama sejak Indonesia merdeka tentang pengangkatan guru besar dan penggunaan sebutan profesor.

SK No. 74 memuat lampiran tentang tata cara pengangkatan seseorang menjadi guru besar dan penyebutan profesor. Menurut SK ini, guru besar adalah jabatan dalam suatu perguruan tinggi. Sedangkan sebutan profesor merupakan pengakuan dan penghormatan tertinggi pada seorang pengajar di perguruan tinggi.


“Karena itu, pengangkatan menjadi Guru Besar dan penggunaan gelar Profesor harus diatur,” catat SK No 74. Syaratnya ada lima. Seseorang harus mempunyai spesialisasi bidang ilmu; menulis karya ilmiah dalam bentuk buku, majalah, jurnal, disertasi; memiliki pengalaman mengajar; bermoral dan berintegritas tinggi; dan berjiwa Pancasila-Manipol USDEK.

Syarat terakhir tak lepas dari kondisi politik saat itu. Sukarno sedang giat-giatnya menggelorakan gagasannya tentang Manipol dan USDEK. Karena posisinya terus menguat, Sukarno pun ikut menentukan proses seseorang menjadi guru besar. Mula-mula para guru besar mengadakan rapat untuk mengajukan calon guru besar.

“Bilamana dalam rapat tersebut dicapai suara bulat, usul pengangkatan sebagai Guru Besar (biasa atau luar biasa) diteruskan kepada Presiden/Ketua Perguruan Tinggi,” tulis SK No. 74. Presiden berhak menerima atau menolak pencalonan guru besar.


SK No. 74 juga menyebutkan, jabatan guru besar tak mesti selalu harus diisi seorang bergelar doktor atau Ph.D. Sebaliknya, seorang bergelar doktor atau Ph.D tak lantas menjadi guru besar. Dengan demikian, seorang bergelar sarjana bisa saja menjabat guru besar dan memakai sebutan profesor.

“Setelah cukup lama mengabdi sebagai akademisi, sudah ubanan bahkan karena sudah tua diplesetkan dengan ‘profesor linglung’,” tulis Adnan Kasry dalam Riau Pos, 13 Juni 2006.

Profesor yang Pensiun

Mengenai apakah penyebutan profesor itu bersifat permanen atau sementara, SK No. 47 menyebut akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Tapi Peraturan Pemerintah pun tak lantas cepat keluar. Akibatnya beberapa guru besar dan profesor masih membawa jabatan dan sebutan itu hingga liang lahat. Sebagaimana tertulis di batu nisannya. Bahkan sebagian menjadi nama jalan.

SK No. 47 sempat ditinjau ulang melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 211/P/1976. Meski begitu, SK No. 47 baru diganti secara resmi setelah keluarnya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).


“Sebutan Guru Besar atau Profesor, hanya dipergunakan selama yang bersangkutan masih aktif bekerja… Karenanya seorang profesor yang telah pensiun, secara akademik tidak berhak lagi menuliskan kata ‘Prof’ di depan namanya,” catat Adnan Kasry, dalam Riau Pos, 13 Juni 2006.

Kasry juga menyebut sejak UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas berlaku, guru besar hanya bisa diisi oleh seorang dosen yang bergelar doktor atau Ph.D. “Tidak seperti dosen sebelumnya,” kata Adnan. 


source:

https://historia.id/



Mereview Sejarah Pengangkatan Guru Besar dan Profesor di Indonesia

Posted by : Banana Harajuku
Jumat, 09 April 2021
0 Comments


 A.Pengantar

 Salah satu persoalan mendasar dan menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dalam penelitian adalah rumusan pertanyaan penelitian. Sebab, kualitas penelitian salah satunya sangat  ditentukan oleh bobot atau kualitas pertanyaan yang diajukan. Tetapi kenyatannya berdasarkan pengalaman mengajar matakuliah metodologi penelitian, membimbing dan menguji skripsi, tesis, dan disertasi selama ini, masih terdapat banyak persoalan terkait rumusan pertanyaan penelitian.

 


Banyak pertanyaan yang diajukan tidak jelas dan tidak layak sebagai pertanyaan penelitian. Terkesan remeh dan tidak menarik, sehingga membuat orang tidak tertarik membacanya. Betapapun menariknya tema atau topik yang akan diteliti, tetapi jika pertanyaannya tidak dirumuskan  dengan baik, penelitian tersebut tidak menarik minat orang. Jika ini terjadi, hasil penelitian tidak banyak memberikan nilai guna karena tidak dibaca orang. Padahal, salah satu syarat penelitian yang baik adalah memberikan nilai guna, baik secara teoretik maupun praktis.

Selain itu, sering terjadi tumpang tindih antara pertanyaan untuk metode penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.  Padahal, masing-masing berbeda secara tajam, mulai paradigma yang melandasi kedua metode tersebut, tujuan, hakikat realitas, cara perolehan data, analisis data, hingga temuan akhirnya. Karena itu, merumuskan masalah penelitian harus cermat dan hati-hati serta tidak sekali jadi. diperlukan waktu untuk merenungkannya sehingga terwujud rumusan pertanyaan penelitian yang memenuhi syarat ilmiah yang baik. setiap kata dalam rumusan masalah berimplikasi sangat luas, baik secara substantif, teoretik maupun metodologis. Karena itu, ia  harus jelas, tidak saja bagi peneliti sendiri tetapi juga bagi pembacanya.  Berikut penjelasan ringkasnya yang disari dari berbagai sumber.

 

B. Syarat Pertanyaan Penelitian

Pada hakikatnya pertanyaan penelitian dirumuskan dengan melihat kesenjangan yang terjadi antara:

1. Apa yang seharusnya terjadi (prescriptive) dan yang sebenarnya terjadi (descriptive)

2. Apa yang diperlukan (what is needed) dan apa yang tersedia (what is available)

3. Apa yang diharapkan (what is expected) dan apa yang dicapai (what is achieved)

Pertanyaan penelitian selalu diawali dengan munculnya masalah yang sering disebut sebagai fenomena atau gejala tertentu. Tetapi tidak semua masalah bisa diajukan sebagai masalah penelitian. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar bisa diangkat sebagai masalah penelitian. Berdasarkan kajian referensi buku-buku metodologi peneltian, setidaknya terdapat tujuh syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

1) Tersedia data atau informasi untuk menjawabnya,

2) Data atau informasi tersebut diperoleh melalui metode ilmiah, seperti wawancara, observasi, kuesioner, dokumentasi, partisipasi, dan evaluasi/tes,

3) Memenuhi persyaratan orisinalitas, diketahui melalui pemetaan penelitian terdahulu (state of the arts),

4) Memberikan sumbangan teoretik yang berarti bagi pengembangan ilmu pengetahuan,

5) Menyangkut isu kontroversial dan unik yang sedang hangat  terjadi,

6) Masalah tersebut memerlukan jawaban serta pemecahan segera, tetapi jawabannya belum diketahui masyarakat luas, dan

7) Masalah itu diajukan dalam  batas  minat  (bidang studi) dan kemampuan peneliti.

Untuk mencapai maksud tersebut di atas, peneliti perlu melakukan pertanyaan reflektif sebagai pemandu. Menurut Raco (2010: 98-99), ada beberapa pertanyaan awal untuk dijawab sebagai berikut:

1) Mengapa masalah tersebut penting untuk diangkat,

2) Bagaimana kondisi sosial di sekitar peristiwa, fakta atau gejala yang akan  diteliti,

3) Proses apa yang sebenarnya terjadi di sekitar peristiwa  tersebut,

4) Perkembanghan atau pergeseran apa yang sedang berlangsung pada waktu peristiwa terjadi, dan

5) Apa manfaat penelitian tersebut baik bagi pengembangan ilmu pengetahun dan masyarakat secara luas di masa yang akan datang.

Dilihat dari jenis pertanyaannya, para ahli metodologi penelitian seperti Marshall & Rossman (2006), dan Creswell (2007: 107) setidaknya membaginya menjadi tiga  macam pertanyaan, yaitu:

1) Deskriptif (yakni mendeskripsikan fenomena atau gejala yang diteliti apa adanya), dengan menggunakan kata tanya ‘apa’. Lazimnya diajukan untuk

pertanyaan penelitian kualitatif.

2) Eksploratoris (yakni untuk memahami gejala atau fenomena secara mendalam), dengan menggunakan kata tanya “bagaimana”. Lazimnya diajukan untuk

pertanyaan penelitian kualitatif.

3) Eksplanatoris  (yakni untuk menjelaskan pola-pola yang terjadi terkait dengan fenomena yang dikaji, dengan mengajukan pertanyaan ‘apa ada hubungan

atau korelasi, pengaruh antara faktor X dan Y). Lazimnya untuk pertanyaan penelitian kuantitatif.

Contoh untuk masing-masing pertanyaan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pertanyaan deskriptif: Apa aja strategi yang dipakai Kepala Sekolah dalam memajukan sekolah yang dipimpinnya?

2. Pertanyaan eksploratif : Bagaimana model kepemimpinan Kepala Sekolah tersebut dalam upaya memajukan sekolah?

3. Pertanyaan eksplanatif: Bagaimana pengaruh model kepemimpinan otoriter terhadap kepatuhan staf?

 

C. Ciri Masalah Penelitian yang Baik

1. Memiliki nilai kebaruan (novelty).

2. Jawabannya penting untuk diketahui masyarakat luas

3. Memiliki nilai nilai guna atau manfaat.

4. Fisibel, artinya terjangkau dari sisi perolehan data, beaya, waktu, dan kualifikasi peneliti.

5. Tidak bertentangan dengan norma atau nilai yang ada di tempat penelitian dilakukan.

Sebagai tambahan wawasan perlu disajikan pula tipe penelitain berdasarkan bidang kajian,  lokus, pemakaian, dan tujuan utama penelitian sebagai berikut:

1. Berdasarkan bidang yang dikaji: pendidikan, manajemen pendidikan, sejarah, bahasa, hukum, politik, agama, politik dsb.,

2. Berdasarkan lokus atau tempat penelitian: lapangan, laboratorium, pustaka

3. Berdasarkan pemakaian: dasar (basic)  atau murni (pure) dan terapan (applied)

4. Berdasarkan tujuan utama: deskriptif, eksploratif, eksplanatif, verifikatif.

 

D. Penutup

Paparan di atas tentu tentu belum cukup untuk dipakai sebagai modal menyusun pertanyaan penelitian yang baik. Diperlukan pengalaman, kerja keras dan semangat untuk terus menggali informasi dan pengetahuan terkait dengan metodologi penelitian dari berbagai sumber dan forum-forum akademik seperti seminar, lokakarya, konferensi, dan sejenisnya. Selamat mencoba.

(Author)

Merumuskan Pertanyaan Penelitian - Bahan Kuliah Metodologi Penelitian

Posted by : Banana Harajuku 0 Comments



 Pertanyaan apa yang sering dilontarkan oleh penguji ?


Apakah disertasi Anda basic research atau applied research? Jelaskan!

Apa isyu disertasi Anda?

Apa masalah disertasi Anda?

Apa gaps of knowledge dan tujuan penelitian Anda?

Kaitkan antara isyu, masalah, gap dan tujuan penelitian Anda!

Apa contribution/novelty Anda?

Apa teori-teori yang digunakan untuk membentuk model pada penelitian Anda?

Apa ruang lingkup penelitian Anda dan kaitannya dengan keterbatasan penelitian?

Bagaimana cara Anda mengumpulkan data?

Mengapa meimilih sampel ini?

Apa perbedaan antara theoretical framework dan conceptual framework pada penelitian Anda?

Mengapa menggunakan metode triangulasi?

Coba jelaskan makna mean dan standar deviasi pada halaman …

Coba kaitkan temuan penelitian dengan kajian literatur

Apa yang menarik dari temuan penelitian Anda?

Mengapa menggunakan metode kualitatif, bukan kuantitatif?? Terangkan

Mengapa hipotesis tidak signifikan?

Mengapa menggunakan conceptual framework untuk penilaian, bukannya theoretical framework?

Mengapa hipotesis Anda banyak yang tidak signifikan?

Bagaimana Anda memilih judul dan isyu penelitian?

 


Penting: Hindarkan pertanyaan-pertanyaan ini, karena dapat menyebabkan koreksi mayor, 6 bulan – 1 tahun.


Mengapa judul penelitian dan tujuan penelitian tidak sama?

Mengapa setiap paragraf ada dinyatakan tujuan penelitian, tapi tidak sama dengan tujuan utamanya?

Mengapa menggunakan korelasi sedangkan penelitian Anda adalah untuk menganalisa relationship?

Model yang diusulkan tidak sesuai dengan isyu, permasalahan, dan tujuan? Mengapa?

Metode yang digunakan tidak sesuai, mengapa digunakan?

Penelitian ini tidak lagi ada nilai novelty, mengapa masih memilih judul ini?

Judul tujuan dan metode tidak mengikuti kaidah yang benar, sila diterangkan!

Apa yang hendak Anda capa? Saya tidak faham!

Tinjauan pustaka bukan hanya sekedar rinngkasan dari penelitian terdahulu, dan tidak didiskusikan secara kritis. Mengapa?

Terdapat berbagai versi tujuan di setiap bagian, mengapa dan mana yang betul?

Apakah Anda fikir penelitian Anda sudah mencapai thap Ph.D sedangkan hasil serta manfaat terhadap pengambil kebijakan, masyarakat, dan ilmu pengethauan tidak seberapa? Jelaskan !


Semoga Disertasi Anda Sukses dan Bermanfaat Untuk Kontribusi Mengembangkan Ilmu Pengetahuan



Pertanyaan yang Biasa Muncul dan di Tanyakan dalam Sidang Ujian Disertasi

Posted by : Banana Harajuku
Minggu, 04 April 2021
0 Comments



 Mendapatkan ide penelitian bisa dimunculkan dari berbagai permasalahan yang ada di sekitar kita. Tentunya permasalahan-permasalahan tersebut juga harus ditimbang bobotnya agar bisa menjadi topik penelitian yang berkualitas. 

Tak hanya menentukan ide dan topik penelitian, tetapi menentukan rumusan masalah yang diperlukan adanya pertanyaan-pertanyaan ilmiah akan pemasalahan tersebut juga sangat penting. 

Pertanyaan penelitian yang baik sangat penting untuk memandu makalah penelitian Anda, proyek penelitian ataupun tesis. Ini menunjukkan dengan tepat apa yang ingin Anda ketahui dan mengharuskan Anda untuk fokus serta menetapkan tujuan yang jelas dari penelitian tersebut. Semua pertanyaan penelitian harus mencakup beberapa hal di bawah ini:

Fokus pada satu masalah atau isu-isu di masyarakat

Diteliti menggunakan sumber primer dan/atau sekunder

Layak untuk dijawab dalam kerangka waktu dan kendala praktis

Cukup spesifik untuk menjawab secara menyeluruh

Cukup kompleks untuk mengembangkan jawaban atas ruang lingkup makalah atau tesis

Relevan dengan bidang studi Anda dan/atau masyarakat secara lebih luas

Dalam makalah penelitian atau esai, Anda biasanya akan menulis satu pertanyaan penelitian untuk memandu Anda dalam membaca dan berpikir. Anda juga dapat meningkatkan kemampuan menulis Anda untuk mendapatkan satu pertanyaan yang dapat menuntun Anda kepada pertanyaan-pertanyaan penelitian yang bagus. Jawaban yang Anda kembangkan adalah pernyataan tesis Anda - pernyataan utama atau posisi yang akan dibahas pada makalah Anda.

Dalam proyek penelitian yang lebih besar, seperti tesis atau disertasi, Anda mungkin memiliki beberapa pertanyaan penelitian, tetapi mereka semua harus terhubung dengan jelas dan fokus di sekitar masalah penelitian pusat. Ada banyak jenis pertanyaan penelitian yang sesuai dengan berbagai jenis penelitian. Namun jangan asal dalam memilih jenis pertanyaan penelitian agar hasil dari tesis, disertasi ataupun penelitian ilmiah Anda juga memiliki kredibilitas yang tinggi.

Bagaimana cara menulis pertanyaan penelitian

Proses mengembangkan pertanyaan penelitian Anda mengikuti beberapa langkah:

  • Pilih topik yang luas
  • Lakukan beberapa bacaan pendahuluan untuk mencari tahu tentang perdebatan dan masalah topikal
  • Mempersempit batasan tertentu dimana Anda ingin fokuskan
  • Mengidentifikasi masalah penelitian praktis atau teoritis yang Anda akan pecahkan

Bila Anda memiliki masalah yang dengan jelas terdefinisikan, Anda perlu merumuskan satu atau lebih pertanyaan. Pikirkan tentang apa yang Anda ingin tahu dan bagaimana hal itu akan memberikan kontribusi untuk memecahkan masalah.

Jenis pertanyaan penelitian

Baik penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif, keduanya memerlukan pertanyaan penelitian. Jenis pertanyaan yang Anda gunakan tergantung pada apa yang Anda ingin ketahui dan jenis penelitian yang ingin Anda lakukan. Ini akan membantu dalam membentuk desain penelitian Anda.

Tabel di bawah menunjukkan beberapa jenis pertanyaan yang paling umum dari pertanyaan penelitian. Ingatlah bahwa banyak pertanyaan penelitian akademik akan lebih kompleks daripada contoh-contoh ini, sering menggabungkan dua atau lebih jenis.


Jenis Pertanyaan Ilmiah                Formula


Penelitian Deskriptif                        Apa karakteristik dari X?

Penelitian Komparatif                     Apa perbedaan dan persamaan dari X dan Y?

Penelitian Korelasi                           Apa hubungan antara variabel X dan variabel Y?

Penelitian Eksplorasi                       Apa faktor utama dalam X? Apa peran Y pada Z?

Penelitian Eksplanatori                   Apakah X memili pengaruh pada Y? Apakah dampak Y

                                                            terhadap Z? Apakah penyebab munculnya X?

Penelitian Evaluasi                           Apakah keuntungan dan kerugian dari X? Seberapa

                                                            baik Y bekerja? Seberapa efektif dan dibutuhkannya Z?

Penelitian Tindakan                        Bagaimana X bisa dicapai? Apa strategi paling efektif

                                                           untuk meningkatkan Y?


Apa yang membuat pertanyaan penelitian kuat?

Menulis pertanyaan bukanlah tugas yang sulit, tetapi mungkin sulit untuk menyelesaikannya jika Anda memiliki pertanyaan penelitian yang bagus. Pertanyaan penelitian mencakup seluruh proyek Anda, jadi penting untuk meluangkan waktu demi menyempurnakannya. Kriteria di bawah ini dapat membantu Anda mengevaluasi kekuatan pertanyaan penelitian Anda.

Berfokus dan Dapat Diteliti

1. Berfokus pada satu topik dan masalah: Pertanyaan penelitian pusat Anda harus mengikuti dari masalah penelitian Anda untuk menjaga pekerjaan Anda tetap fokus. Jika Anda memiliki banyak pertanyaan, semuanya harus jelas terkait dengan tujuan utama ini.

2. Dijawab menggunakan data primer atau sekunder: Anda harus dapat menemukan jawaban dengan mengumpulkan data kuantitatif dan/atau kualitatif, atau dengan membaca sumber-sumber ilmiah tentang topik untuk mengembangkan argumen. Jika data semacam itu tidak dapat diakses, Anda harus memikirkan kembali pertanyaan Anda dan mengajukan sesuatu yang lebih konkret.

3. Tidak meminta penilaian secara subyektif: Hindari kata-kata subjektif seperti baik, buruk, lebih baik dan lebih buruk, karena ini tidak memberikan kriteria yang jelas untuk menjawab pertanyaan. Jika pertanyaan Anda mengevaluasi sesuatu, gunakan istilah dengan definisi yang lebih terukur.

Contoh: Apakah X atau Y yang memiliki kebijakan lebih baik? (X)

Seberapa efektifkah kebijakan X dan Y dalam mengurangi tingkat Z? (O)

4. Tidak bertanya kenapa: Mengajukan pertanyaan "kenapa" biasanya terlalu terbuka untuk dijadikan pertanyaan penelitian yang bagus. Sering ada begitu banyak kemungkinan penyebabnya sehingga proyek penelitian tidak dapat memberikan jawaban yang menyeluruh. Coba ajukan pertanyaan apa atau bagaimana.

Contoh: 

Mengapa X terjadi?

Apa faktor utama yang berkontribusi terhadap X?

Bagaimana X dipengaruhi oleh Y?

Layak dan spesifik

1. Dijawab dalam batasan praktis: Pastikan Anda memiliki cukup waktu dan sumber daya untuk melakukan penelitian yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan. Jika Anda merasa kesulitan untuk mendapatkan akses ke data yang cukup, pertimbangkan untuk mempersempit pertanyaan menjadi lebih spesifik.

2. Menggunakan konsep spesifik dan terdefinisi dengan baik: Semua istilah yang Anda gunakan dalam pertanyaan penelitian harus memiliki makna yang jelas. Hindari bahasa yang bias dan ide-ide yang luas, dan perjelas tentang apa, siapa, di mana, dan kapan pertanyaan Anda membahas permasalahan tersebut.

Contoh:

Apa pengaruh media sosial terhadap pikiran orang? (X)

Apa efek penggunaan harian Twitter terhadap remaja usia di bawah 16 tahun? (O)

3. Tidak meminta solusi, kebijakan, atau tindakan yang konklusif: Penelitian adalah tentang memberi informasi, bukan menginstruksikan Bahkan jika proyek Anda terfokus pada masalah praktis, itu harus bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan menyarankan kemungkinan daripada meminta solusi yang sudah jadi.

Contoh:

Apa yang harus dilakukan pemerintah mengenai jumlah pasrtisipan/pemilih yang rendah? (X)

Apa strategi komunikasi paling efektif untuk meningkatkan jumlah pemilih di bawah 30-an? (O)

Kompleks dan bisa diperdebatkan

1. Tidak bisa dijawab dengan ya atau tidak: Pertanyaan tertutup “ya/tidak” terlalu sederhana untuk dijadikan sebagai pertanyaan penelitian yang bagus pertanyaan itu tidak memberikan ruang yang cukup untuk penyelidikan dan diskusi.

Contoh:

Apakah ada peningkatan jumlah tunawisma di Inggris dalam sepuluh tahun terakhir? (X) Bagaimana faktor ekonomi dan politik mempengaruhi pola tunawisma di Inggris selama sepuluh tahun terakhir? (O)

2. Tidak dapat dijawab dengan fakta dan angka yang mudah ditemukan: Jika Anda dapat menjawab pertanyaan melalui pencarian Google atau dengan membaca satu buku atau artikel, itu mungkin tidak cukup kompleks. Pertanyaan penelitian yang baik membutuhkan data asli, sintesis berbagai sumber, interpretasi dan/atau argumen untuk memberikan jawaban.

3. Memberikan ruang untuk debat dan musyawarah: Jawaban atas pertanyaan seharusnya tidak hanya berupa pernyataan fakta sederhana: perlu ada ruang bagi Anda untuk mendiskusikan dan menafsirkan apa yang Anda temukan. Ini sangat penting dalam esai atau makalah penelitian, di mana jawaban untuk pertanyaan Anda sering mengambil bentuk pernyataan tesis argumentatif.

Relevan dan asli

1. Mengatasi masalah yang relevan dengan bidang ilmu Anda: Pertanyaan penelitian harus dikembangkan berdasarkan bacaan awal di sekitar topik Anda, dan harus fokus pada mengatasi masalah atau kesenjangan dalam pengetahuan yang ada.

2. Berkontribusi pada debat sosial atau akademis topikal: Pertanyaannya harus bertujuan untuk berkontribusi pada debat yang ada - idealnya yang saat ini ada di bidang Anda atau di masyarakat pada umumnya. Ini harus menghasilkan pengetahuan yang dapat dikembangkan oleh peneliti atau praktisi masa depan.

3. Belum dijawab: Anda tidak perlu bertanya sesuatu yang inovatif yang belum pernah dipikirkan oleh siapa pun sebelumnya, tetapi pertanyaan tersebut harus memiliki beberapa aspek orisinalitas (misalnya, dengan berfokus pada lokasi tertentu atau mengambil sudut pandang baru dalam debat yang sudah berlangsung lama).



Sumber: scribbr.com - freepik.com

Langkah Mengembangkan Pertanyaan Penelitian Yang Kuat

Posted by : Banana Harajuku 0 Comments

 Lima Pertanyaan Disertasi



Lima pertanyaan yang perlu dijawab dalam sebuah disertasi adalah sebagai berikut:


Permasalahan apa yang akan diselesaikan dalam disertasi Anda? Ini adalah inti dari penelitian disertasi Anda. Segala upaya yang Anda lakukan selama masa penelitian sebenarnya hanya untuk menjawab pertanyaan ini.

Seberapa besar manfaat penelitian Anda? Apakah permasalahan tersebut belum diselesaikan oleh orang lain? Jika penelitian Anda kurang bermanfaat atau permasalahan sudah diselesaikan orang lain, maka Anda tidak perlu bersusah payah melakukan penelitian yang mubadzir. Alangkah baiknya jika Anda melakukan penelitian untuk topik lain yang lebih bermanfaat, atau melakukan penelitian dengan metode lain yang hasilnya lebih baik dari yang pernah dilakukan orang lain.

Bagaimana cara Anda menyelesaikan masalah dengan penelitian Anda? Di sini Anda harus menjelaskan metodologi yang digunakan dalam penelitian Anda, termasuk data yang Anda gunakan dalam penelitian. Dalam sebuah penelitian, validitas data menjadi hal yang sangat penting. Karena data yang tidak valid tidak akan dapat memberikan hasil penelitian yang valid, meskipun mungkin teknik analisanya valid.

Apa hasil penelitian Anda? Jelaskan hal-hal yang Anda temukan dalam penelitian dan analisa Anda atas hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Bandingkan dengan teori yang berkembang pada bidang ilmu terkait, termasuk penjelasannya jika hasil yang Anda peroleh berbeda dari konsep umum pada bidang tersebut.

Apa kontribusi (dampak/implikasi) hasil penelitian Anda terhadap ilmu pengetahuan atau terhadap praktek yang dilakukan masyarakat? Hal ini untuk menegaskan bahwa hasil penelitian Anda memang memberikan kontribusi yang nyata bagi ilmu pengetahuan dan/atau bagi praktek kehidupan masyarakat secara luas.

Sumber: http://www.pendidikanislam.net

Sukses Disertasi Doktor - Lima Pertanyaan Disertasi

Posted by : Banana Harajuku 0 Comments


 Sumber Daya Manusia atau di sebut SDM memiliki peranan yang sangat vital dalam Organiasasi apapun, khususnya Perusahaan, karena fungsi dari SDM inilah yang sangat berpengaruh terhadap laju kinerja perusahaan seperti apa. Namun bukan hal mudah untuk mengurusi SDM yang berisi orang-orang dengan beda karakter dan beda motivasi kenapa mereka ingin bekerja, dengan adanya beberapa hal tersebutlah, maka SDM perlu di manaje sedemikian rupa agar mampu mengelola dan mengembangkan kualitas SDM yang ada agar kinerja mereka tetap produktif sesuai dengan harpan dari perusahaan.

Di dalam Manajemen Sumber Daya Manusia ada salah satu tugas pentiang di antaranya adalah Pelatihan dan Pengembangan atau biasa di sebut Training & Development. Perusahaan banyak yang berinvestasi tinggi untuk meningkatkan skill dan kualitas SDM yang ada agar kualitas produk mereka dapat bersaing di era pasar bebas ini. Pada prakteknya dengan banyaknya metode-metode pelatihan yang ada dan di lakukan oleh beberapa perusahaan, tidak jarang hasil dari pelatihan tersebut tidak sesuai dengan harapan, malah tidak sebanding dengan biaya yang di keluarkan juga banyak waktu yang terbuang. Salah satu metode pelatihan yang khusus di sasar untuk para pegawai baru yang sangat signifikan impact nya adalah Pelatihan Magang, pelatihan ini bisa di bilang sangat efektif, karena hemat waktu, di mana peserta training bisa belajar sekaligus praktek dalam waktu yang sama.


Menurut Gomes (1997 : 197), “Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki prestasi kerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya. Idealnya, pelatihan harus dirancang untuk mewujudkan tujuan – tujuan organisasi, yang pada waktu bersamaan juga mewujudkan tujuan – tujuan para pekerja secara perorangan. Pelatihan sering dianggap sebagai aktivitas yang paling umum dan para pimpinan mendukung adanya pelatihan karena melalui pelatihan, para pekerja akan menjadi lebih trampil dan karenanya akan lebih produktif sekalipun manfaat – manfaat tersebut harus diperhitungkan dengan waktu yang tersita ketika pekerja sedang dilatih” .
Pelatihan menurut Gary Dessler (1997 : 263) adalah “Proses mengajarkan karyawan baru atau yang ada sekarang, ketrampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka”.
Sedangkan menurut John R. Schermerhorn, Jr (1999 : 323), pelatihan merupakan “Serangkaian aktivitas yang memberikan kesempatan untuk mendapatkan dan meningkatkan ketrampilan yang berkaitan dengan pekerjaan”. Pelatihan merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam dunia perhotelan. Karyawan, baik yang baru ataupun yang sudah bekerja perlu mengikuti pelatihan karena adanya tuntutan pekerjaan yang dapat berubah akibat perubahan lingkungan kerja, strategi, dan lain sebagainya.
Di bawah ini akan dijelaskan beberapa cara atau metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan pegawai baru :
  1. Magang / Apprenticeship Training
Magang adalah suatu pembekalan pegawa baru dengan cara belajar langsung dengan senior dan diawasi oleh para pakar atau ahlinya. Untuk mendapatkan skill yang sama dengan masternya dibutuhkan waktu yang relatif cukup lama.
  1. Learning By Doing / On The Job Training / Bekerja Sambil Belajar
    On the job training adalah suatu bentuk pembekalan yang dapat mempercepat proses pemindahan pengetahuan dan pengalaman kerja / transfer knowledge dan para karyawan senior ke junior. Pelatihan ini langsung menerjunkan pegawai baru bekerja sesuai dengan job description / jobdesc masing-masing di bawah supervisi / pengawasan penyelia atau karyawan senior.
  2. Vestibule Training
Vestibule training adalah memberikan pelatihan semacam kursus yang dijalankan di luar lingkungan kerja. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan pada kursus tersebut tidak jauh berbeda dengan pekerjaan yang nantinya akan digeluti oleh para peserta.

SEBERAPA PENTING PELATIHAN MAGANG BAGI PEGAWAI BARU 
Menurut Hariandja (2002 : 168), ada beberapa alasan penting untuk mengadakan pelatihan, yaitu:
a.       Karyawan yang baru direkrut sering kali belum memahami secara benar bagaimana melakukan pekerjaan.
b.      Perubahan – perubahan lingkungan kerja dan tenaga kerja. Perubahan – perubahan disini meliputi perubahan – perubahan dalam teknologi proses seperti munculnya teknologi baru atau munculnya metode kerja baru. Perubahan dalam tenaga kerja seperti semakin beragamnya tenaga kerja yang memiliki latar belakang keahlian, nilai, sikap yang berbeda yang memerlukan
pelatihan untuk menyamakan sikap dan perilaku mereka terhadap pekerjaan.
c.       Meningkatkan daya saing perusahaan dan memperbaiki produktivitas. Saat ini daya saing perusahaan tidak bisa lagi hanya dengan mengandalkan aset berupa modal yang dimiliki, tetapi juga harus sumber daya manusia yang menjadi elemen paling penting untuk meningkatkan daya saing sebab sumber daya manusia merupakan aspek penentu utama daya saing yang langgeng.
d.      Menyesuaikan dengan peraturan – peraturan yang ada, misalnya standar pelaksanaan pekerjaan yang dikeluarkan oleh asosiasi industri dan pemerintah, untuk menjamin kualitas produksi atau keselamatan dan kesehatan kerja.

 TEKNIK PELATIHAN 
Program latihan menurut Handoko (1995:110) dirancang untuk meningkatkan prestasi kerja, mengurangi absensi dan perputaran, serta memperbaiki kepuasan kerja. Ada dua kategori pokok program latihan manajemen:
a.         Metode praktis.
Teknik-teknik “on the job trainning” merupakan metode latihan yang paling banyak digunakan. Karyawan dilatih tentang pekerjaan yang baru dengan supervisi langsung, seorang “pelatih” yang berpengalaman. Berbagai macam teknik ini yang biasa digunakan dalam praktek adalah sebagai berikut:
1. Rotasi jabatan merupakan latihan dengan memberikan kepada karyawan pengetahuan tentang bagian-bagian organisasi yang berbeda dan praktek berbagai macam ketrampilan manajerial.
2. Latihan instruksi pekerjaan merupakan latihan dengan memberikan petunjuk-petunjuk pekerjaan diberikan secara langsung pada pekerjaan dan digunakan terutama untuk melatih para karyawan tentang cara pelaksanaan pekerjaan sekarang.
3. Magang merupakan latihan dengan memberikan proses belajar dari seorang atau beberapa orang yang telah berpengalaman.
Pendekatan itu dapat dikombinasikan dengan latihan “off job trainning”. Hampir semua karyawan pengrajin (care off), seperti tukang kayu dan ahli pipa atau tukang ledeng, dilatih dengan program-program magang formal. Aksestensi dan internship adalah bentuk lain program magang.
4. Pengarahan merupakan latihan dengan penyelia atau atasan memberikan bimbingan dan pengarahan kepada karyawan dalam pelaksanaan kerja rutin mereka. Hubungan penyelia dan karyawan sehingga bawahan serupa dengan hubungan kotor-mahasiswa.
5. Penugasan sementara merupakan latihan dengan memberikan penempatan karyawan pada posisi manajerial atau sebagai anggota panitia tertentu untuk jangka waktu yang ditetapkan
b. Metode simulasi.
Dengan metode ini karyawan peserta latihan representasi tiruan (artificial). Suatu aspek organisasi dan diminta untuk menanggapinya seperti dalam keadaan sebenarnya. Diantara metode-metode simulasi yang paling umum digunakan adalah sebagai berikut:
1. Metode Studi Kasus.
Deskripsi tertulis suatu situasi pengambilan keputusan nyata disediakan. Aspek organisasi terpilih diuraikan pada lembar kasus.Karyawan yang terlibat dalam tipe latihan ini diminta untuk mengidentifikasikan masalah-masalah, menganalisa situasi dan merumuskan penyelesaian-penyelesaian alternatif. Dengan metode kasus, karyawan dapat mengembangkan ketrampilan pengambilan keputusan.
2. Permainan Rotasi Jabatan.
Teknik ini merupakan suatu peralatan yang memungkinkan para karyawan (peserta latihan) untuk memainkan berbagai peranan yang berbeda. Peserta ditugaskan untuk individu tertentu yang digambarkan dalam suatu periode dan diminta untuk menanggapi para peserta lain yang berbeda perannya. Dalam hal ini tidak ada masalah yang mengatur pembicaraan dan perilaku. Efektifitas metode ini sangat bergantung pada kemampuan peserta untuk memainkan peranan (sedapat mungkin sesuai dengan realitas) yang ditugaskan kepadanya. Teknik role playing dapat mengubah sikap peserta seperti misal menjadi lebih toleransi terhadap perbedaan individual, dan mengembangkan ketrampilan, ketrampilan antar pribadi (interpersonal skill).
3. Permainan Bisnis.
Bussiness (management) game adalah suatu simulasi pengambilan keputusan skala kecil yang dibuat sesuai dengan kehidupan bisnis nyata. Permainan bisnis yang komplek biasanya dilakukan dengan bantuan komputer untuk mengerjakan perhitungan-perhitungan
yang diperlukan. Permaianan di sistem dengan aturan-aturan tentunya yang diperoleh dari teori ekonomi atau dari study operasi-operasi bisnis atau industri secara terperinci. Para peserta memainkan “game” dengan memutuskan harga produk yang akan dipasarkan, berapa besar anggaran penjualan, siapa yang akan ditarik dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk melatih parakaryawan (atau manajer) dalam pengambilan keputusan dan cara mengelola operasi-operasi perusahaan.
4. Ruang Pelatihan.
Agar program latihan tidak mengganggu operasi-operasi normal, organisasi menggunakan vestibule trainning. Bentuk latihan ini bukan dilaksanakan oleh atasan (penyelia), tetapi oleh pelatih-pelatih khusus. Area-area yang terpisah dibangun dengan berbagai jenis peralatan sama seperti yang akan digunakan pada pekerjaan sebenarnya.
5. Latihan Laboratorium.
Teknik ini adalah suatu bentuk latihan kelompok yang terutama digunakan untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan antar pribadi. Salah satu bentuk latihan laboratorium yang terkenal adalah latihan sensitivitas dimana peserta belajar menjadi lebih
sensitif (peka) terhadap perasaan orang lain dan lingkungan. Latihan ini berguna untuk mengembangkan berbagai perilaku bagi tanggung jawab pekerjaan diwaktu yang akan datang.
6. Program-program pengembangan eksekutif.
Program-program ini biasanya diselenggarakan di Universitas atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Organisasi bisa mengirimkan para karyawannya untuk mengikuti paket-paket khusus yang ditawarkan ; atau bekerjasama dengan suatu lembaga pendidikan untuk menyelenggarakan secara khusus suatu bentuk penataran, pendidikan atau latihan sesuai kebutuhan organisasi.
MANFAAT PELATIHAN MAGANG
Dalam pengembangan sumberdaya manusia dikenal adanya istilah magang sebagai bagian dari suatu pelatihan. Magang umumnya merupakan pembelajaran bagi para karyawan yang sudah lebih berpengalaman atau karyawan lainnya. Meskipun hal itu mungkin dilengkapi dengan pelatihan di luar kelas-pekerjaan. Kebanyakan para karyawan terampil, seperti perancang produksi dan administrasi pembukuan dilatih melalui program magang formal. Bantuan dan tugas belajar selama pelatihan dengan cara magang menggunakan tingkat partisipasi tinggi. Dengan demikian peserta pelatihan dan memiliki kemampu-pindahan yang tinggi terhadap pekerjaan ini.
Selain magang terdapat bentuk pelatihan dengan menyediakan sebuah model untuk peserta pelatihan dimana peserta meniru apa yang dilakukan atau ditunjukkan pelatih. Kebanyakan perusahaan menggunakan model pelatihan ini. Bentuk ini memang kurang begitu formal daripada program magang karena kurang terdapat sesi formal di dalam kelas. Oleh karena itu, baru disediakan manakala dibutuhkan sebagai bagian dari program yang sudah disiapkan secara hati-hati.
Pelatihan selalu ditangani oleh penyelia atau manajer; tidak selalu oleh departemen SDM. Kadang-kadang seorang manajer atau tenaga profesional lainnya mengambil manfaat dan memainkan peranan mentor, dan memberikan ketrampilan dan nasihat karir. Bentuk partisipasi, umpan balik, dan perpindahan pekerjaan sangat mungkin memiliki porsi tinggi dalam proses pembelajaran ini.
Tugas-tugas untuk gugus tugas dapat membantu banyak karyawan dengan cara yang sama dengan magang dan coaching. Melalui periode pertemuan staf yang teratur dengan para gugus tugas, seorang manajer mengembangkan ketrampilan antarpersonal, belajar mengevaluasi informasi, dan memperoleh pengalaman dalam mengamati model-model potensial.
Para peserta magang umumnya merasa lebih puas ketimbang dengan pembelajaran yang sifatnya teoritis. Mereka merasa diberi peran banyak untuk mengmbangkan kraetifitasnya. Sekaligus dihargai akan jerih payahnya selama dan sesudah magang. Kompensasi dalam bentuk gaji dan atau upah tetap diberikan. Bahkan ada juga yang memeroleh uang saku selama magang.
Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan dalam bentuk magang ini berpengaruh terhadap peningkatan ketrampilan dan sikap kerja keras para pesertanya. Kinerja mereka pun semakin meningkat setelah mereka mengikuti magang antara satu sampai dua bulan. Hal ini karena mereka mampu menarik pelajaran dari kekeliruan dan keberhasilan dalam praktek selama magang. Dengan pengalaman magangnya mereka semakin berhati-hati dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Pada intinya mereka bekerja dalam upaya meningkatkan mutu kerjanya.


FORMULASI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
Sebelum pelatihan dapat diselenggarakan, kabutuhan akan hal itu perlu dianalisis lebih dahulu. Hal demikian disebut sebagai langkah/tahapan penilaian dari proses pelatihan. Menurul (Sjafri:2003:140). setelah tahap analisis kebutuhan dilakukan, maka harus melakukan beberapa tahapan berikutnya:
1. Penilaian kebutuhan pelatihan.
a. Penilaian kebtuhan perusahaan.
b. Penilaian kebutuhan tugas.
c. Penilaian kebutuhan karyawan.
2. Perumusan tujuan pelatihan.
Perumusan tujuan pelatihan harus ada keterkaitan antara input, output, outcome, dan impact dan pelatihan itu sendiri.
3. Prinsip-prinsf pelatihan.
a. partisipasi
b. pendalaman
c. relevansi
d. pengalihan
e. umpan balik
f. suasana nyaman
g. memiliki kriteria
4. Merancang dan menyeleksi prosedur pelatihan.
a. Pelatihan instruksi pekerjaan
b. Perputaran pekerjaan
c. Magang dan pelatihan
d. Kuliah dan presentasi
e. Permainan peran dan pemodelan perilaku
f. Studi kasus
g. Simulasi
h. Studi mandiri dan pembelajaran program
i. Pelatihan laboratorium
j. Pembelajaran aksi
Dalam tahapan ini menurut (Gomes:2003:204) terdapat paling kurang tiga tahapan utama dalam pelatihan dan pengembangan, yakni: penentuan kebutuhan pelatihan, desain program pelatihan, evaluasi program pelatihan.
1. Penentuan kebutuhan pelatihan (assessing training needs)
Adalah lebih sulit untuk menilai kebutuhan-kebutuhan pelatihan bagi para pekerja yang ada daripada mengorientasikan para pegawai yang baru. Dari satu segi kedua-duanya sama. Tujuan penentuan kebutuhan pelatihan ini adalah untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan guna mengetahui dan atau/menentukan apakah perlu atau tidaknya pelatihan dalam organisasi tersebut.
Dalam tahapan ini terdapat tiga macam kebutuhan akan pelatihan yaitu:
a). General treatment need, yaitu penilaian kebutuhan pelatihan bagi semua pegawai dalam suatu klasifikasi pekerjaan tanpa memperhatikan data mengenai kinerja dari seseorang pegawai tertentu.
b). Oversable performance discrepancies, yaitu jenis penilaian kebutuhan pelatihan yang didasarkan pada hasil pengamatan terhadap berbagai permasalahan, wawancara, daftar pertanyaan, dan evaluasi/penilaian kinerja, dan dengan cara meminta para pekerja untuk mengawasi sendiri hasil kerjanya sendiri.
c). Future human resources neeeds, yaitu jenis keperluan pelatihan ini tidak berkaitan dengan ketidak sesuaian kinerja, tetapi Iebih berkaitan dengan sumberdaya manusia untuk waktu yang akan datang.

2. Mendesain program pelatihan (desaigning a training program)
Sehenarnya persoalan performansi bisa disiatasi melalui perubahan dalam system feedback, seleksi atau imbalan, dan juga melalui pelatihan. Atau akan Iebih mudah dengan melakukan pemecatan terhadap pegawai selama masa percobaannya.
Jika pelatihan merupakan Solusi terbaik maka para manajer atau supervisor harus memutuskan program pelatihan yang tepat yang bagaimana yang harus dijalankan. Ada dua metode dan pririsip bagi pelatihan:
a. Metode pelatihan.
Metode peIathan yang tepat tergantung kepada tujuannya. Tujuan atau sasaran pelatihan yang berbeda akan berakibat pemakaian metode yang berheda pula.
b. Prinsip umum bagi metode pelatihan
Terlepas dari berhagai metode yang ada, apapun bentuk metode yang dipilh, metode tersebut harus rnemenuhi prinsip—prnsip seperti: 1 .Memotivasi para peserta pelatihan. 2. Memperlihatkan ketrampilan-ketrampilan. 3. Harus konsisten dangan isi pelatihan. 4.Peserta berpartisipasi aktif. 5. Memberikan kesempatan untuk perluasan ketrampilan. 6. Memberikan feedback. 7. Mendorong dari hasil pelatihan ke pekerjaan. 8. Harus efektif dari segi biaya.
3. Evaluasi efektifitas program (evaluating training program effectivenees).
Supaya efektif, pelatihan haru merupakan suatu solusi yang tepat bagi permasalahan organisasi, yakni bahwa pelatihan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki kekurangan keterampilan. Untuk meningkatkan usaha belajarnya,para pekerja harus menyadari perlunya perolheanb informasi baru atau mempelajari keterampilan-keterampilan baru, dan keinginan untuk belajar harus dipertahankan. Apa saja standar kinerja yang telah ditetapkan, sang pegawai tidak harus dikecewakan oleh pelatih yang menuntut terlalu banyak atau terlalau sedikit.
Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menguji apakah pelatihan tersebut efektif di dalam mencapai sasaran-sasarannya yang telah ditetapkan. Ini menghendaki identifikasi dan pengembangan criteria tertentu.
a. Tipe-tipe efektifitas program pelatihan.
Program pelatihan bisa dievaluasi berdasarkan informasi yang bisa diperoleh pada lima tingkatan: 1. reaction, 2. learning, 3. behaviors, 4.organizational result, 5. cost efectivity. Pertanyaan-pertanyaan pada masing-masing kriteria tersebut, seperti diuraikan dibawah ini, memungkinkan penyaringan informasi yang bisa menjelaskan seberapa efektif program pelatihan yang dilaksanakan tersebut.
1. reactions: Ukuran mengenai reaksi ini didesain untuk mengetahui opini dari para peserta mengenai program pelatihan. Usaha untuk mendapatkan opini para peserta tentang pelatihan ini, terutama didasarkan pada beberapa alasan utama, seperti: untuk mengetahui sejauh mana para peserta merasa puas dengan program untuk maksud diadakannya bebrapa revisi atas program pelatihan, untuk menjamin agar para peserta yang lain bersikap represif untuk mengikuti program pelatihan.
2. Learning: Informasi yang ingin diperoleh melalui jenis evaluasi ini adalah mengetahi seberapa jauh para peserta menguasai konsep-konsep, pengetahuan, keterampilan-keterampilan yang diberikan selama pelatihan.
3. Behaviors: Perilaku dari para peserta, sebelum dan sesudah pelatihan, dapat dibandingkan guna mengetahui tingkat pengaruh pelatihan terhadap perubahan performansi mereka. Langkah ini penting karena sasaran dari pelatihan adalah untuk mengubah perilaku atau performansi para peseerta pelatihan setelah diadakan program pelatihan.
4. Organizational result: tujuan dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan.
5. Cost effectivity: ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya biaya yang dihabiskan bagi program pelatihan, dan apakah besarnya biaya untuk pelatihan tersebut terhitung kecil atau besar dibandingkan biaya yang timbul dari permasalah yang dialami oleh organisasi.
b. Model-model penialaian effektifitas pelatihan.
Proses evaluasi itu sendiri bisa mendorong para pegawai untuk meningkatkan produktifitasnya. Untuk mengetahui dampak dari pelatihan itu secara keseluruhan terhadap hasil atau performansi seseorang atau suatu kelompok tertentu, umumnya terdapat dua pilihan model penilaian yaitu: 1. Uncontrolled model

2. Controlled model.
Model pertama ini bisanya tidak memakai kelompok pembanding dalam melakukan penilaian damapak pelatihan terhadap hasil dan/atau performansi kerjanya.
Sedangkan model kedua adalah model yang dalam melakukan penilaian efektivitas program pelatihan menggunakan sestem membanding yaitu membandingkan hasil dari orang atau kelompok yang tidak mengikuti pelatihan.
Menurut (Dessler:2004:217). Program pelatihan terdiri dari lima langkah:
Pertama: Langkah analisis kebutuhan, yaitu mengetahui keterampilan kerja spesifik yang dibutuhkan, menganalisa keterampilan dan kebutuhan calon yang akan dilatih, dan mengembangkan pengetahuan khusus yang terukur serta tujuan perestasi.
Kedua: Merancang instruksi, untuk memutuskan, menyusun, dan menghasilkan isi program pelatihan, termasuk buku kerja, latihan dan aktivitas.
Ketiga: lagkah validasi, yaitu program pelatihan dengan menyajiakn kepada beberapa orang yang bisa mewakili.
Keempat: menerapkan program itu, yaitu melatih karyawan yang ditargetkan.
Kelima: Langkah evaluasi dan tindak lanjut, dimana manejemen menilai keberhasilan atau kegagalan program ini:
Terdapat tiga tahapan yang harus tercakup dalam proses pelatihan (Simamora:2006:285) yaitu:
1. Tahapan penilaian
2. Tahapan pelatihan dan pengembangan
3. Tahapan evaluasi


KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya dapat di ambil kesimpulan bahwa Salah satu bentuk pelatihan yang efektif adalah pelatihan magang. Nagi pegawai baru dengan minimnya pengalaman sangat membutuhkan pengetahuan sekaligus cara bagaimana mereka bekerja selanjutnya. Dengan manajemen Pelatihan magang yang di buat secara terpadu, di antaranya ada kordinasi antara bagian SDM dengan supervisor atau penyelia di departemen masing-masing akan semakin mebuat kualitas hasil pelatihan magang bai pegawai baru ini semakin efektif dan efisien.


Berdasarkan kesimpulan di atas maka saran yang dapat di berikan dalam tulisan ini adalah hendaknya setiap perusahaan mengemas sebuah paket pelatihan magang bagi pegawai baru secara klomprehensif, yatu suatu program terpadu antara bagian SDM dengan departmrn terkait untuk membina dan membingmbing pegawai baru agar dengan cepat dapat beradaptasi sehingga kualitas hasil pekerjaan pegawai baru tersebut dapat  berhasil baik.

URGENSI Pelatihan dan Magang (Apprenticeship Training)

Posted by : Banana Harajuku
Selasa, 12 Januari 2021
0 Comments

- Copyright © FBM ENTREPRENEUR - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -