Archive for April 2021

 


Tentang Keripik Talas Ciwidey

Khasiat Keripik Tales

Beragam manfaat umbi talas
  1. Menjaga kesehatan pencernaan. Salah satu manfaat talas yang bisa Anda peroleh adalah menjaga kesehatan pencernaan. ...
  2. Membantu menurunkan berat badan. ...
  3. Meningkatkan kesehatan jantung. ...
  4. Mengendalikan tekanan darah. ...
  5. Mengontrol kadar gula darah. ...
  6. 6. Kaya akan antioksidan. ...
  7. 7. Membantu memenuhi kebutuhan seng.


Order Keripik Talas Khas ciwidey, 
@facebook
@instagram
@youtube
@blogger:
@googlebisnisku



Source: 
oleholehciwidey.blogspot.com
tipssehat.com



Oleh Oleh Ciwidey - Keripik Talas - Keripik khas desa suka wening

Posted by : Banana Harajuku
Kamis, 15 April 2021
0 Comments

 

Sejarah Pengangkatan Guru Besar dan Profesor di Indonesia

Dulu sarjana pun bisa jadi profesor kalau sudah ubanan sehingga disebut profesor linglung.



Para pengajar dan guru besar di Rechtshogeschool te Batavia atau Sekolah Tinggi Hukum Batavia pada 1920-an. (Tropenmuseum).

Acara obrolan Erdian Aji Prihartanto alias Anji dan Hadi Pranoto tentang penemuan obat herbal untuk Covid-19 menuai kontroversi. Bukan saja isinya, tapi juga penyematan atribut profesor pada Hadi Pranoto. Tak diketahui dari universitas mana dia memperoleh atribut itu. Belakangan, dia mengaku atribut itu hanyalah panggilan sayang dari teman-temannya.  

Meski Hadi mengaku dia memperoleh atribut “profesor” dari teman-temannya, atribut itu sejatinya tak bisa sembarang disematkan oleh suatu kelompok kepada orang tertentu. Penyebutan profesor memiliki aturan jelas dalam sejarah negeri ini meski ada kalanya tak tertulis.

Profesor merupakan sebutan lain untuk guru besar. Profesor bukanlah gelar akademik, melainkan penyebutan untuk orang yang menjabat guru besar dalam struktur pengajar di universitas. Profesor berasal dari bahasa latin, artinya orang yang memiliki keahlian.

Nama Hussein Djajadiningrat tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mengemban jabatan guru besar dan memiliki atribut profesor. Dia memperolehnya dari Rechtshogeschool (Perguruan Tinggi Hukum) di Jakarta pada 1924.

Waktu itu hampir seluruh aturan dan sistem pendidikan tinggi di Hindia Belanda meniru aturan dan sistem pendidikan tinggi di Belanda. Termasuk pula penyebutan gelar untuk para sarjananya (Mr. atau Meester in de Rechten) dan penyematan jabatan guru besar.

Seturut dengan tradisi kampus-kampus di Eropa, kaprah pada masa itu komunitas akademik di sebuah kampus di Belanda saling mengusulkan seseorang untuk diangkat sebagai guru besar. Sebelumnya orang itu harus memiliki sejumlah karya akademik yang berbobot dan diakui komunitas akademik.

Sebelum pengangkatan menjadi guru besar, seseorang harus menyiapkan pidato ilmiah. Dia akan membacakan pidato itu di hadapan komunitas akademik tempat dia bekerja. Pidato lazimnya disampaikan dengan bahasa yang bisa dipahami oleh orang yang tidak sebidang dengan kepakaran atau keilmuannya. Menurut laman uu.se (Uppsala University, universitas pertama di Swedia) tradisi seperti ini telah berakar di kampus-kampus Eropa pada abad pertengahan (14–16 M).


Tradisi pengukuhan guru besar masuk ke Hindia Belanda seiring dengan pendirian perguruan tinggi di Hindia Belanda sepanjang 1920-an. Tradisi tanpa aturan tertulis ini terus bertahan di perguruan tinggi Indonesia selama masa 1950-an. Bachtiar Rifai dkk. dalam Perguruan Tinggi di Indonesia menyebut masa ini sebagai masa bertahan atau survival perguruan tinggi.  


Masa ini perguruan tinggi Indonesia mendasarkan geraknya pada Undang-Undang Darurat No. 7 Tahun 1950 tentang pemberian kekuasaan kepada menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan untuk menyelenggarakan universitas. Sebagian besar isi UU itu berupa upaya penambahan tenaga pengajar dari orang Indonesia dan pengambilalihan perguruan tinggi dari tangan NICA Belanda.

Sementara Nugroho Notoususanto dkk. dalam Sedjarah Singkat Universitas Indonesia menyebut masa 1950-an sebagai masa Indonesianisasi perguruan tinggi. Ini termasuk pula upaya mendorong pengukuhan guru besar dari kalangan bangsa Indonesia. “Lagi pula Senat Guru Besar sebagian besar terdiri dari orang-orang Belanda, demikian pula tenaga-tenaga dosen lainnya,” catat Nugroho.


Memasuki dekade 1960-an, aturan tertulis tentang pengangkatan guru besar dan penyematan sebutan profesor mulai diperkenalkan. Ini seiring dengan keluarnya UU No. 22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi. UU ini mengatur penyelenggaraan pendidikan seperti tujuan, bentuk-bentuk perguruan tinggi, tingkat ujian dan gelar, jenis pengajar, dan definisi guru besar dan profesor.

Pasal 11 ayat 7 menyebut pemakaian sebutan profesor diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP). Ada ancaman pidana jika seseorang sembarang menggunakannya. Tapi PP tentang pemakaian sebutan profesor tak kunjung keluar selama setahun. Ini membuat sejumlah perguruan tinggi menerapkan kembali konvensi lama tentang penyematan sebutan profesor. Seseorang pun terkadang menyematkan sebutan profesor di depan namanya secara mana suka.

“Pernah terjadi bahwa gelar profesor telah digunakan secara disengaja atau tidak disengaja oleh yang bersangkutan sebelum keluar Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, hal mana sama sekali tidak dapat dibenarkan,” catat Himpunan Peraturan Perundang-Undangan tentang Perguruan Tinggi di Indonesia terbitan tahun 1975.

Peraturan Tertulis Pertama                                

Kekosongan peraturan tertulis tentang penyematan sebutan profesor mendorong Tojib Hadiwijaya, Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, mengeluarkan Surat Keputusan No. 74 Tahun 1962 tentang Pedoman Sementara Mengenai Pengangkatan Guru Besar Pada Perguruan Tinggi dan Penggunaan Sebutan/Gelar Profesor. Inilah aturan tertulis pertama sejak Indonesia merdeka tentang pengangkatan guru besar dan penggunaan sebutan profesor.

SK No. 74 memuat lampiran tentang tata cara pengangkatan seseorang menjadi guru besar dan penyebutan profesor. Menurut SK ini, guru besar adalah jabatan dalam suatu perguruan tinggi. Sedangkan sebutan profesor merupakan pengakuan dan penghormatan tertinggi pada seorang pengajar di perguruan tinggi.


“Karena itu, pengangkatan menjadi Guru Besar dan penggunaan gelar Profesor harus diatur,” catat SK No 74. Syaratnya ada lima. Seseorang harus mempunyai spesialisasi bidang ilmu; menulis karya ilmiah dalam bentuk buku, majalah, jurnal, disertasi; memiliki pengalaman mengajar; bermoral dan berintegritas tinggi; dan berjiwa Pancasila-Manipol USDEK.

Syarat terakhir tak lepas dari kondisi politik saat itu. Sukarno sedang giat-giatnya menggelorakan gagasannya tentang Manipol dan USDEK. Karena posisinya terus menguat, Sukarno pun ikut menentukan proses seseorang menjadi guru besar. Mula-mula para guru besar mengadakan rapat untuk mengajukan calon guru besar.

“Bilamana dalam rapat tersebut dicapai suara bulat, usul pengangkatan sebagai Guru Besar (biasa atau luar biasa) diteruskan kepada Presiden/Ketua Perguruan Tinggi,” tulis SK No. 74. Presiden berhak menerima atau menolak pencalonan guru besar.


SK No. 74 juga menyebutkan, jabatan guru besar tak mesti selalu harus diisi seorang bergelar doktor atau Ph.D. Sebaliknya, seorang bergelar doktor atau Ph.D tak lantas menjadi guru besar. Dengan demikian, seorang bergelar sarjana bisa saja menjabat guru besar dan memakai sebutan profesor.

“Setelah cukup lama mengabdi sebagai akademisi, sudah ubanan bahkan karena sudah tua diplesetkan dengan ‘profesor linglung’,” tulis Adnan Kasry dalam Riau Pos, 13 Juni 2006.

Profesor yang Pensiun

Mengenai apakah penyebutan profesor itu bersifat permanen atau sementara, SK No. 47 menyebut akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Tapi Peraturan Pemerintah pun tak lantas cepat keluar. Akibatnya beberapa guru besar dan profesor masih membawa jabatan dan sebutan itu hingga liang lahat. Sebagaimana tertulis di batu nisannya. Bahkan sebagian menjadi nama jalan.

SK No. 47 sempat ditinjau ulang melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 211/P/1976. Meski begitu, SK No. 47 baru diganti secara resmi setelah keluarnya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).


“Sebutan Guru Besar atau Profesor, hanya dipergunakan selama yang bersangkutan masih aktif bekerja… Karenanya seorang profesor yang telah pensiun, secara akademik tidak berhak lagi menuliskan kata ‘Prof’ di depan namanya,” catat Adnan Kasry, dalam Riau Pos, 13 Juni 2006.

Kasry juga menyebut sejak UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas berlaku, guru besar hanya bisa diisi oleh seorang dosen yang bergelar doktor atau Ph.D. “Tidak seperti dosen sebelumnya,” kata Adnan. 


source:

https://historia.id/



Mereview Sejarah Pengangkatan Guru Besar dan Profesor di Indonesia

Posted by : Banana Harajuku
Jumat, 09 April 2021
0 Comments


 A.Pengantar

 Salah satu persoalan mendasar dan menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dalam penelitian adalah rumusan pertanyaan penelitian. Sebab, kualitas penelitian salah satunya sangat  ditentukan oleh bobot atau kualitas pertanyaan yang diajukan. Tetapi kenyatannya berdasarkan pengalaman mengajar matakuliah metodologi penelitian, membimbing dan menguji skripsi, tesis, dan disertasi selama ini, masih terdapat banyak persoalan terkait rumusan pertanyaan penelitian.

 


Banyak pertanyaan yang diajukan tidak jelas dan tidak layak sebagai pertanyaan penelitian. Terkesan remeh dan tidak menarik, sehingga membuat orang tidak tertarik membacanya. Betapapun menariknya tema atau topik yang akan diteliti, tetapi jika pertanyaannya tidak dirumuskan  dengan baik, penelitian tersebut tidak menarik minat orang. Jika ini terjadi, hasil penelitian tidak banyak memberikan nilai guna karena tidak dibaca orang. Padahal, salah satu syarat penelitian yang baik adalah memberikan nilai guna, baik secara teoretik maupun praktis.

Selain itu, sering terjadi tumpang tindih antara pertanyaan untuk metode penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.  Padahal, masing-masing berbeda secara tajam, mulai paradigma yang melandasi kedua metode tersebut, tujuan, hakikat realitas, cara perolehan data, analisis data, hingga temuan akhirnya. Karena itu, merumuskan masalah penelitian harus cermat dan hati-hati serta tidak sekali jadi. diperlukan waktu untuk merenungkannya sehingga terwujud rumusan pertanyaan penelitian yang memenuhi syarat ilmiah yang baik. setiap kata dalam rumusan masalah berimplikasi sangat luas, baik secara substantif, teoretik maupun metodologis. Karena itu, ia  harus jelas, tidak saja bagi peneliti sendiri tetapi juga bagi pembacanya.  Berikut penjelasan ringkasnya yang disari dari berbagai sumber.

 

B. Syarat Pertanyaan Penelitian

Pada hakikatnya pertanyaan penelitian dirumuskan dengan melihat kesenjangan yang terjadi antara:

1. Apa yang seharusnya terjadi (prescriptive) dan yang sebenarnya terjadi (descriptive)

2. Apa yang diperlukan (what is needed) dan apa yang tersedia (what is available)

3. Apa yang diharapkan (what is expected) dan apa yang dicapai (what is achieved)

Pertanyaan penelitian selalu diawali dengan munculnya masalah yang sering disebut sebagai fenomena atau gejala tertentu. Tetapi tidak semua masalah bisa diajukan sebagai masalah penelitian. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar bisa diangkat sebagai masalah penelitian. Berdasarkan kajian referensi buku-buku metodologi peneltian, setidaknya terdapat tujuh syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

1) Tersedia data atau informasi untuk menjawabnya,

2) Data atau informasi tersebut diperoleh melalui metode ilmiah, seperti wawancara, observasi, kuesioner, dokumentasi, partisipasi, dan evaluasi/tes,

3) Memenuhi persyaratan orisinalitas, diketahui melalui pemetaan penelitian terdahulu (state of the arts),

4) Memberikan sumbangan teoretik yang berarti bagi pengembangan ilmu pengetahuan,

5) Menyangkut isu kontroversial dan unik yang sedang hangat  terjadi,

6) Masalah tersebut memerlukan jawaban serta pemecahan segera, tetapi jawabannya belum diketahui masyarakat luas, dan

7) Masalah itu diajukan dalam  batas  minat  (bidang studi) dan kemampuan peneliti.

Untuk mencapai maksud tersebut di atas, peneliti perlu melakukan pertanyaan reflektif sebagai pemandu. Menurut Raco (2010: 98-99), ada beberapa pertanyaan awal untuk dijawab sebagai berikut:

1) Mengapa masalah tersebut penting untuk diangkat,

2) Bagaimana kondisi sosial di sekitar peristiwa, fakta atau gejala yang akan  diteliti,

3) Proses apa yang sebenarnya terjadi di sekitar peristiwa  tersebut,

4) Perkembanghan atau pergeseran apa yang sedang berlangsung pada waktu peristiwa terjadi, dan

5) Apa manfaat penelitian tersebut baik bagi pengembangan ilmu pengetahun dan masyarakat secara luas di masa yang akan datang.

Dilihat dari jenis pertanyaannya, para ahli metodologi penelitian seperti Marshall & Rossman (2006), dan Creswell (2007: 107) setidaknya membaginya menjadi tiga  macam pertanyaan, yaitu:

1) Deskriptif (yakni mendeskripsikan fenomena atau gejala yang diteliti apa adanya), dengan menggunakan kata tanya ‘apa’. Lazimnya diajukan untuk

pertanyaan penelitian kualitatif.

2) Eksploratoris (yakni untuk memahami gejala atau fenomena secara mendalam), dengan menggunakan kata tanya “bagaimana”. Lazimnya diajukan untuk

pertanyaan penelitian kualitatif.

3) Eksplanatoris  (yakni untuk menjelaskan pola-pola yang terjadi terkait dengan fenomena yang dikaji, dengan mengajukan pertanyaan ‘apa ada hubungan

atau korelasi, pengaruh antara faktor X dan Y). Lazimnya untuk pertanyaan penelitian kuantitatif.

Contoh untuk masing-masing pertanyaan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pertanyaan deskriptif: Apa aja strategi yang dipakai Kepala Sekolah dalam memajukan sekolah yang dipimpinnya?

2. Pertanyaan eksploratif : Bagaimana model kepemimpinan Kepala Sekolah tersebut dalam upaya memajukan sekolah?

3. Pertanyaan eksplanatif: Bagaimana pengaruh model kepemimpinan otoriter terhadap kepatuhan staf?

 

C. Ciri Masalah Penelitian yang Baik

1. Memiliki nilai kebaruan (novelty).

2. Jawabannya penting untuk diketahui masyarakat luas

3. Memiliki nilai nilai guna atau manfaat.

4. Fisibel, artinya terjangkau dari sisi perolehan data, beaya, waktu, dan kualifikasi peneliti.

5. Tidak bertentangan dengan norma atau nilai yang ada di tempat penelitian dilakukan.

Sebagai tambahan wawasan perlu disajikan pula tipe penelitain berdasarkan bidang kajian,  lokus, pemakaian, dan tujuan utama penelitian sebagai berikut:

1. Berdasarkan bidang yang dikaji: pendidikan, manajemen pendidikan, sejarah, bahasa, hukum, politik, agama, politik dsb.,

2. Berdasarkan lokus atau tempat penelitian: lapangan, laboratorium, pustaka

3. Berdasarkan pemakaian: dasar (basic)  atau murni (pure) dan terapan (applied)

4. Berdasarkan tujuan utama: deskriptif, eksploratif, eksplanatif, verifikatif.

 

D. Penutup

Paparan di atas tentu tentu belum cukup untuk dipakai sebagai modal menyusun pertanyaan penelitian yang baik. Diperlukan pengalaman, kerja keras dan semangat untuk terus menggali informasi dan pengetahuan terkait dengan metodologi penelitian dari berbagai sumber dan forum-forum akademik seperti seminar, lokakarya, konferensi, dan sejenisnya. Selamat mencoba.

(Author)

Merumuskan Pertanyaan Penelitian - Bahan Kuliah Metodologi Penelitian

Posted by : Banana Harajuku 0 Comments



 Pertanyaan apa yang sering dilontarkan oleh penguji ?


Apakah disertasi Anda basic research atau applied research? Jelaskan!

Apa isyu disertasi Anda?

Apa masalah disertasi Anda?

Apa gaps of knowledge dan tujuan penelitian Anda?

Kaitkan antara isyu, masalah, gap dan tujuan penelitian Anda!

Apa contribution/novelty Anda?

Apa teori-teori yang digunakan untuk membentuk model pada penelitian Anda?

Apa ruang lingkup penelitian Anda dan kaitannya dengan keterbatasan penelitian?

Bagaimana cara Anda mengumpulkan data?

Mengapa meimilih sampel ini?

Apa perbedaan antara theoretical framework dan conceptual framework pada penelitian Anda?

Mengapa menggunakan metode triangulasi?

Coba jelaskan makna mean dan standar deviasi pada halaman …

Coba kaitkan temuan penelitian dengan kajian literatur

Apa yang menarik dari temuan penelitian Anda?

Mengapa menggunakan metode kualitatif, bukan kuantitatif?? Terangkan

Mengapa hipotesis tidak signifikan?

Mengapa menggunakan conceptual framework untuk penilaian, bukannya theoretical framework?

Mengapa hipotesis Anda banyak yang tidak signifikan?

Bagaimana Anda memilih judul dan isyu penelitian?

 


Penting: Hindarkan pertanyaan-pertanyaan ini, karena dapat menyebabkan koreksi mayor, 6 bulan – 1 tahun.


Mengapa judul penelitian dan tujuan penelitian tidak sama?

Mengapa setiap paragraf ada dinyatakan tujuan penelitian, tapi tidak sama dengan tujuan utamanya?

Mengapa menggunakan korelasi sedangkan penelitian Anda adalah untuk menganalisa relationship?

Model yang diusulkan tidak sesuai dengan isyu, permasalahan, dan tujuan? Mengapa?

Metode yang digunakan tidak sesuai, mengapa digunakan?

Penelitian ini tidak lagi ada nilai novelty, mengapa masih memilih judul ini?

Judul tujuan dan metode tidak mengikuti kaidah yang benar, sila diterangkan!

Apa yang hendak Anda capa? Saya tidak faham!

Tinjauan pustaka bukan hanya sekedar rinngkasan dari penelitian terdahulu, dan tidak didiskusikan secara kritis. Mengapa?

Terdapat berbagai versi tujuan di setiap bagian, mengapa dan mana yang betul?

Apakah Anda fikir penelitian Anda sudah mencapai thap Ph.D sedangkan hasil serta manfaat terhadap pengambil kebijakan, masyarakat, dan ilmu pengethauan tidak seberapa? Jelaskan !


Semoga Disertasi Anda Sukses dan Bermanfaat Untuk Kontribusi Mengembangkan Ilmu Pengetahuan



Pertanyaan yang Biasa Muncul dan di Tanyakan dalam Sidang Ujian Disertasi

Posted by : Banana Harajuku
Minggu, 04 April 2021
0 Comments



 Mendapatkan ide penelitian bisa dimunculkan dari berbagai permasalahan yang ada di sekitar kita. Tentunya permasalahan-permasalahan tersebut juga harus ditimbang bobotnya agar bisa menjadi topik penelitian yang berkualitas. 

Tak hanya menentukan ide dan topik penelitian, tetapi menentukan rumusan masalah yang diperlukan adanya pertanyaan-pertanyaan ilmiah akan pemasalahan tersebut juga sangat penting. 

Pertanyaan penelitian yang baik sangat penting untuk memandu makalah penelitian Anda, proyek penelitian ataupun tesis. Ini menunjukkan dengan tepat apa yang ingin Anda ketahui dan mengharuskan Anda untuk fokus serta menetapkan tujuan yang jelas dari penelitian tersebut. Semua pertanyaan penelitian harus mencakup beberapa hal di bawah ini:

Fokus pada satu masalah atau isu-isu di masyarakat

Diteliti menggunakan sumber primer dan/atau sekunder

Layak untuk dijawab dalam kerangka waktu dan kendala praktis

Cukup spesifik untuk menjawab secara menyeluruh

Cukup kompleks untuk mengembangkan jawaban atas ruang lingkup makalah atau tesis

Relevan dengan bidang studi Anda dan/atau masyarakat secara lebih luas

Dalam makalah penelitian atau esai, Anda biasanya akan menulis satu pertanyaan penelitian untuk memandu Anda dalam membaca dan berpikir. Anda juga dapat meningkatkan kemampuan menulis Anda untuk mendapatkan satu pertanyaan yang dapat menuntun Anda kepada pertanyaan-pertanyaan penelitian yang bagus. Jawaban yang Anda kembangkan adalah pernyataan tesis Anda - pernyataan utama atau posisi yang akan dibahas pada makalah Anda.

Dalam proyek penelitian yang lebih besar, seperti tesis atau disertasi, Anda mungkin memiliki beberapa pertanyaan penelitian, tetapi mereka semua harus terhubung dengan jelas dan fokus di sekitar masalah penelitian pusat. Ada banyak jenis pertanyaan penelitian yang sesuai dengan berbagai jenis penelitian. Namun jangan asal dalam memilih jenis pertanyaan penelitian agar hasil dari tesis, disertasi ataupun penelitian ilmiah Anda juga memiliki kredibilitas yang tinggi.

Bagaimana cara menulis pertanyaan penelitian

Proses mengembangkan pertanyaan penelitian Anda mengikuti beberapa langkah:

  • Pilih topik yang luas
  • Lakukan beberapa bacaan pendahuluan untuk mencari tahu tentang perdebatan dan masalah topikal
  • Mempersempit batasan tertentu dimana Anda ingin fokuskan
  • Mengidentifikasi masalah penelitian praktis atau teoritis yang Anda akan pecahkan

Bila Anda memiliki masalah yang dengan jelas terdefinisikan, Anda perlu merumuskan satu atau lebih pertanyaan. Pikirkan tentang apa yang Anda ingin tahu dan bagaimana hal itu akan memberikan kontribusi untuk memecahkan masalah.

Jenis pertanyaan penelitian

Baik penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif, keduanya memerlukan pertanyaan penelitian. Jenis pertanyaan yang Anda gunakan tergantung pada apa yang Anda ingin ketahui dan jenis penelitian yang ingin Anda lakukan. Ini akan membantu dalam membentuk desain penelitian Anda.

Tabel di bawah menunjukkan beberapa jenis pertanyaan yang paling umum dari pertanyaan penelitian. Ingatlah bahwa banyak pertanyaan penelitian akademik akan lebih kompleks daripada contoh-contoh ini, sering menggabungkan dua atau lebih jenis.


Jenis Pertanyaan Ilmiah                Formula


Penelitian Deskriptif                        Apa karakteristik dari X?

Penelitian Komparatif                     Apa perbedaan dan persamaan dari X dan Y?

Penelitian Korelasi                           Apa hubungan antara variabel X dan variabel Y?

Penelitian Eksplorasi                       Apa faktor utama dalam X? Apa peran Y pada Z?

Penelitian Eksplanatori                   Apakah X memili pengaruh pada Y? Apakah dampak Y

                                                            terhadap Z? Apakah penyebab munculnya X?

Penelitian Evaluasi                           Apakah keuntungan dan kerugian dari X? Seberapa

                                                            baik Y bekerja? Seberapa efektif dan dibutuhkannya Z?

Penelitian Tindakan                        Bagaimana X bisa dicapai? Apa strategi paling efektif

                                                           untuk meningkatkan Y?


Apa yang membuat pertanyaan penelitian kuat?

Menulis pertanyaan bukanlah tugas yang sulit, tetapi mungkin sulit untuk menyelesaikannya jika Anda memiliki pertanyaan penelitian yang bagus. Pertanyaan penelitian mencakup seluruh proyek Anda, jadi penting untuk meluangkan waktu demi menyempurnakannya. Kriteria di bawah ini dapat membantu Anda mengevaluasi kekuatan pertanyaan penelitian Anda.

Berfokus dan Dapat Diteliti

1. Berfokus pada satu topik dan masalah: Pertanyaan penelitian pusat Anda harus mengikuti dari masalah penelitian Anda untuk menjaga pekerjaan Anda tetap fokus. Jika Anda memiliki banyak pertanyaan, semuanya harus jelas terkait dengan tujuan utama ini.

2. Dijawab menggunakan data primer atau sekunder: Anda harus dapat menemukan jawaban dengan mengumpulkan data kuantitatif dan/atau kualitatif, atau dengan membaca sumber-sumber ilmiah tentang topik untuk mengembangkan argumen. Jika data semacam itu tidak dapat diakses, Anda harus memikirkan kembali pertanyaan Anda dan mengajukan sesuatu yang lebih konkret.

3. Tidak meminta penilaian secara subyektif: Hindari kata-kata subjektif seperti baik, buruk, lebih baik dan lebih buruk, karena ini tidak memberikan kriteria yang jelas untuk menjawab pertanyaan. Jika pertanyaan Anda mengevaluasi sesuatu, gunakan istilah dengan definisi yang lebih terukur.

Contoh: Apakah X atau Y yang memiliki kebijakan lebih baik? (X)

Seberapa efektifkah kebijakan X dan Y dalam mengurangi tingkat Z? (O)

4. Tidak bertanya kenapa: Mengajukan pertanyaan "kenapa" biasanya terlalu terbuka untuk dijadikan pertanyaan penelitian yang bagus. Sering ada begitu banyak kemungkinan penyebabnya sehingga proyek penelitian tidak dapat memberikan jawaban yang menyeluruh. Coba ajukan pertanyaan apa atau bagaimana.

Contoh: 

Mengapa X terjadi?

Apa faktor utama yang berkontribusi terhadap X?

Bagaimana X dipengaruhi oleh Y?

Layak dan spesifik

1. Dijawab dalam batasan praktis: Pastikan Anda memiliki cukup waktu dan sumber daya untuk melakukan penelitian yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan. Jika Anda merasa kesulitan untuk mendapatkan akses ke data yang cukup, pertimbangkan untuk mempersempit pertanyaan menjadi lebih spesifik.

2. Menggunakan konsep spesifik dan terdefinisi dengan baik: Semua istilah yang Anda gunakan dalam pertanyaan penelitian harus memiliki makna yang jelas. Hindari bahasa yang bias dan ide-ide yang luas, dan perjelas tentang apa, siapa, di mana, dan kapan pertanyaan Anda membahas permasalahan tersebut.

Contoh:

Apa pengaruh media sosial terhadap pikiran orang? (X)

Apa efek penggunaan harian Twitter terhadap remaja usia di bawah 16 tahun? (O)

3. Tidak meminta solusi, kebijakan, atau tindakan yang konklusif: Penelitian adalah tentang memberi informasi, bukan menginstruksikan Bahkan jika proyek Anda terfokus pada masalah praktis, itu harus bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan menyarankan kemungkinan daripada meminta solusi yang sudah jadi.

Contoh:

Apa yang harus dilakukan pemerintah mengenai jumlah pasrtisipan/pemilih yang rendah? (X)

Apa strategi komunikasi paling efektif untuk meningkatkan jumlah pemilih di bawah 30-an? (O)

Kompleks dan bisa diperdebatkan

1. Tidak bisa dijawab dengan ya atau tidak: Pertanyaan tertutup “ya/tidak” terlalu sederhana untuk dijadikan sebagai pertanyaan penelitian yang bagus pertanyaan itu tidak memberikan ruang yang cukup untuk penyelidikan dan diskusi.

Contoh:

Apakah ada peningkatan jumlah tunawisma di Inggris dalam sepuluh tahun terakhir? (X) Bagaimana faktor ekonomi dan politik mempengaruhi pola tunawisma di Inggris selama sepuluh tahun terakhir? (O)

2. Tidak dapat dijawab dengan fakta dan angka yang mudah ditemukan: Jika Anda dapat menjawab pertanyaan melalui pencarian Google atau dengan membaca satu buku atau artikel, itu mungkin tidak cukup kompleks. Pertanyaan penelitian yang baik membutuhkan data asli, sintesis berbagai sumber, interpretasi dan/atau argumen untuk memberikan jawaban.

3. Memberikan ruang untuk debat dan musyawarah: Jawaban atas pertanyaan seharusnya tidak hanya berupa pernyataan fakta sederhana: perlu ada ruang bagi Anda untuk mendiskusikan dan menafsirkan apa yang Anda temukan. Ini sangat penting dalam esai atau makalah penelitian, di mana jawaban untuk pertanyaan Anda sering mengambil bentuk pernyataan tesis argumentatif.

Relevan dan asli

1. Mengatasi masalah yang relevan dengan bidang ilmu Anda: Pertanyaan penelitian harus dikembangkan berdasarkan bacaan awal di sekitar topik Anda, dan harus fokus pada mengatasi masalah atau kesenjangan dalam pengetahuan yang ada.

2. Berkontribusi pada debat sosial atau akademis topikal: Pertanyaannya harus bertujuan untuk berkontribusi pada debat yang ada - idealnya yang saat ini ada di bidang Anda atau di masyarakat pada umumnya. Ini harus menghasilkan pengetahuan yang dapat dikembangkan oleh peneliti atau praktisi masa depan.

3. Belum dijawab: Anda tidak perlu bertanya sesuatu yang inovatif yang belum pernah dipikirkan oleh siapa pun sebelumnya, tetapi pertanyaan tersebut harus memiliki beberapa aspek orisinalitas (misalnya, dengan berfokus pada lokasi tertentu atau mengambil sudut pandang baru dalam debat yang sudah berlangsung lama).



Sumber: scribbr.com - freepik.com

Langkah Mengembangkan Pertanyaan Penelitian Yang Kuat

Posted by : Banana Harajuku 0 Comments

 Lima Pertanyaan Disertasi



Lima pertanyaan yang perlu dijawab dalam sebuah disertasi adalah sebagai berikut:


Permasalahan apa yang akan diselesaikan dalam disertasi Anda? Ini adalah inti dari penelitian disertasi Anda. Segala upaya yang Anda lakukan selama masa penelitian sebenarnya hanya untuk menjawab pertanyaan ini.

Seberapa besar manfaat penelitian Anda? Apakah permasalahan tersebut belum diselesaikan oleh orang lain? Jika penelitian Anda kurang bermanfaat atau permasalahan sudah diselesaikan orang lain, maka Anda tidak perlu bersusah payah melakukan penelitian yang mubadzir. Alangkah baiknya jika Anda melakukan penelitian untuk topik lain yang lebih bermanfaat, atau melakukan penelitian dengan metode lain yang hasilnya lebih baik dari yang pernah dilakukan orang lain.

Bagaimana cara Anda menyelesaikan masalah dengan penelitian Anda? Di sini Anda harus menjelaskan metodologi yang digunakan dalam penelitian Anda, termasuk data yang Anda gunakan dalam penelitian. Dalam sebuah penelitian, validitas data menjadi hal yang sangat penting. Karena data yang tidak valid tidak akan dapat memberikan hasil penelitian yang valid, meskipun mungkin teknik analisanya valid.

Apa hasil penelitian Anda? Jelaskan hal-hal yang Anda temukan dalam penelitian dan analisa Anda atas hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Bandingkan dengan teori yang berkembang pada bidang ilmu terkait, termasuk penjelasannya jika hasil yang Anda peroleh berbeda dari konsep umum pada bidang tersebut.

Apa kontribusi (dampak/implikasi) hasil penelitian Anda terhadap ilmu pengetahuan atau terhadap praktek yang dilakukan masyarakat? Hal ini untuk menegaskan bahwa hasil penelitian Anda memang memberikan kontribusi yang nyata bagi ilmu pengetahuan dan/atau bagi praktek kehidupan masyarakat secara luas.

Sumber: http://www.pendidikanislam.net

Sukses Disertasi Doktor - Lima Pertanyaan Disertasi

Posted by : Banana Harajuku 0 Comments

- Copyright © FBM ENTREPRENEUR - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -